Sabtu, 18 Juni 2011

Petuah Umar bin Khattab kepada Ahnaf bin Qais

وَيَقُوْلُ سَيِّدُنُا عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ لِلْأَحْنَف مُرَبِّـــيًا: يَا أَحْنَف مَنْ كَثُرَ ضَحِكُهُ قَلَّتْ هَيْبَتُهُ، وَمَنْ مَزَحَ اُسْتُخِفَّ بِهِ، وَمَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ وَمَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ قَلَّ حَيَاؤُهُ وَمَنْ قَلَّ حَيَاؤُهُ قَلَّ وَرَعُهُ وَمَنْ قَلَّ وَرَعُهُ مَاتَ قَلْبُهُ.

Petuah Umar ibn Khattab kepada Ahnaf bin Qais:

Barang siapa banyak tertawa, maka sedikit wibawanya

Barang siapa suka bersenda gurau, ia akan diremehkan

Barang siapa banyak bicaranya, banyak pula luput (salah) nya

Barang siapa banyak keluputan (kesalahan)nya, sedikit malunya

Barang siapa sedikit malunya, sedikit pula wara’nya

Barang siapa sedikit wara’nya, matilah HATInya

Rabu, 15 Juni 2011

Tiga Golongan Ahli Ibadah

Sebagian ulama mengatakan bahwa motivasi peribadatan itu terbagi tiga, yaitu al-rahbaniy, al-jananiy dan al-rabbaniy.

Adapun al-rahbaniy itu ialah orang-orang yang mengerjakan ibadat karena takut kepada neraka. Al-Jananiy ialah orang-orang mengerjakan ibadat karena menginginkan surge. Sementara al-rabbaniy itu ialah orang-orang yang beribadat karena rindu kepada Allah, bukan karena takut neraka atau ingin surga.

Kelak, pada hari kiamat, akan dikatakan kepada al-rahbaniy, engkau telah selamat dari neraka. Lalu ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka-cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Q.S. 35:34)

Dikatakan kepada al-jananiy, engkau berhak mendapatkan surga. Lalu ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami,” (Q.S. 39:74)

Sementara kepada al-rabbaniy dikatakan, Allah telah mengaruniakan kepadamu untuk memandang kepada-Nya tanpa perantara. Maka ia menjawab, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak member petunjuk kepada kami.” (Q.S.7:43)

(Petuah Ulama Besar al-Allamah Ahmad Syihabuddin al-Qalyubi dalam kitab beliau Al-Nawadir h. 189)

Jumat, 27 Mei 2011

Inspirasi di Jum`at Pagi

SINDROM MATERIALISTIS
(Nasehat bagi orang materialis yang sudah kehilangan kebahagiaan hidupnya)

Saudaraku, renungkanlah cerita pendek berikut:
Seorang lelaki datang kepada seorang ustadz, mengadukan persoalan keluarganya. "Saya bosan di rumah sekarang."
"Mengapa?"
"Tidak ada yang menarik?"
"Iya tentu."
"Anakmu berapa?"
"Dua. Satu laki-laki berumur lima tahun, satunya perempuan, tiga tahun."
"Pernahkah engkau memperhatikan anakmu ketika sedang makan?"
"Tidak."
"Ketika sedang bermain-main?"
"Juga tidak."
"Ketika tidur saat tengah malam?"
"Tidak."
"Coba lakukanlah itu. ketika engkau sedang memperhatikan, rasakanlah bahwa ia adalah anakmu, pelanjut denyut nadimu, yang harus kau curahi cinta dan kasih sayang. Anak-anakmu itu adalah karunia Allah untuk menyenangkan hatimu. Ketika ia makan, perhatikanlah bagaimana ia mengunyah rezeki yang dikirim Allah lewat tanganmu yang bekerja. Ketika ia tidur, perhatikanlah hidungnya yang mirip engkau, bibirnya yang mungkin mirip ibunya, dan perhatikan pula bagaimana desah nafsunya ketika menghirup dan menghembuskan udara. Itu semua film indah yang disuguhkan Allah untukmu. Kalau engkau membiasakan melakukan ini sambil mengingat Allah, engkau akan mendapatkan nikmat ruhani tiada tara. Di antara orang yang sangat malang, ialah orang yang tidak bisa menikmati keindahan yang dipancarkan Allah lewat gerak dan tingkah laku anak-anaknya sendiri,

Imam Ghazali berpuisi:
Kehidupan berlalu bersama waktu, Peristiwa terjadi setiap hari
Puaskan dirimu dengan hidupmu, kamu pasti bahagia
Tinggalkan hawa nafsumu, kamu pasti hidup merdeka
Betapa banyak kematian di antarkan emas, perak dan permata

(kutipan dari Meraih Kebahagiaan Jalaluddin Rakhmat)

Inspirasi di Jum`at Dini hari

"Ya Allah, pemberian terbaik-Mu dalam hatiku adalah harapanku kepada-Mu dan kata termanis yang meluncur dari lidahku adalah menyebut-Mu dan masa terindah bagiku adalah bersua dengan-Mu. Ya Allah, Ilahi Rabbi, aku tak tahan apabila tidak mengingat-ingat Diri-Mu di dunia ini dan bagaimana aku dapat bertahan tanpa menatap pandangan-Mu di akhirat nanti? Ya Allah, keluhku kepada-Mu adalah bahwa akulah seorang Musafir di tengah belantara bumi-Mu ini dan aku merasa kesepian di antara umat-umat-Mu lainnya."

"Ya Allah, jika aku beribadat hanya karena rasa takutku pada neraka, maka bakarlah aku di dalam api neraka-Mu. Dan jika aku beribadat hanya karena mengharap surga-Mu, maka tutuplah rapat-rapat pintu surga itu bagi diriku. Tetapi apabila aku beribadat hanya karena mencari keridhaan-Mu, maka jangan Engkau sembunyikan Keindahan Abadi-Mu itu dari pandanganku.

Luar biasa Doa Sang Maestro Sufi Rabia`ah al-Adawiyah di atas.